Vapeboss Indonesia

Blog Details

image

Studi Bantah Vape Sebagai Jembatan Untuk Orang Merokok

Vapeboss – Kelompok anti-vaping berteori bahwa vape merupakan jembatan seseorang untuk merokok. Namun, berbagai studi ilmiah internasional tidak menemukan bukti pengguna vape atau konsumen produk tembakau yang dipanaskan beralih menjadi perokok.

Studi yang dilakukan oleh Shu-Hong Zhu dan peneliti lain membuktikan bahwasanya tidak mungkin populasi merokok dikaitkan dengan satu intervensi. Studi tersebut juga menunjukkan penggunaan rokok elektrik mampu menurunkan tingkat merokok di beberapa negara.

“Namun, perlu dicatat bahwa tingkat penurunan merokok di AS dan Inggris telah meningkat selama periode vaping meluas dan tingkat berhenti merokok telah meningkat di seluruh populasi. Perubahan ini tampaknya tidak dapat dijelaskan oleh faktor lain seperti kenaikan pajak dan kampanye pemasaran kesehatan masyarakat,” isi dalam studi tersebut.

Hasil penelitian tersebut juga relevan dengan negara Filipina yang menerapkan Republic Act No. 11900 atau Vaporized Nicotine and Non-Nicotine Products Regulation Act sebagai undang-undang untuk mengatur segala bentuk aktivitas vape di Filipina. 

Public Health England pun menyatakan bahwa mereka tidak mendukung teori vaping yang menyebabkan orang merokok melalui surveynya.

“hasil survei terbaru di Inggris tidak mendukung gagasan bahwa vaping (atau penggunaan rokok elektrik) adalah pintu gerbang untuk merokok.” katanya.

Menurut lima survey yang dilakukan ASH UK atau Action on Smoking and Health-United Kingdom, yang melibatkan anak-anak berusia 11 hingga 16 tahun di Inggris antara tahun 2015 dan 2017 menunjukkan bahwa mereka yang bereksperimen dengan rokok elektrik tidak menjadi perokok.

"Secara keseluruhan, tidak ada bukti bahwa rokok elektrik meningkatkan prevalensi merokok pada kelompok usia ini. Faktanya, prevalensi merokok di kalangan anak muda telah menurun sejak rokok elektrik masuk ke pasar,” menurut ASH UK.

Emma Beard yang memimpin penelitian analisis rangkaian waktu antara tahun 2007 dan 2018 di Inggris menunjukkan bahwa meningkatnya konsumsi rokok pada kalangan dewasa muda yang berusia 16 hingga 24 tahun tidak memiliki keterkaitan dengan peningkatan prevalensi penggunaan rokok elektrik.

Selain itu, Lionw Shahab dari University of Bristol memimpin studi terbaru di tahun 2022 mengatakan, “Berdasarkan keseimbangan bukti saat ini, menggunakan data triangulasi dari perbandingan lintas-kontekstual tingkat populasi baru-baru ini, analisis dan pemodelan genetik tingkat individu, kami percaya, bagaimanapun, bahwa klaim kausal tentang efek gerbang yang kuat dari rokok elektrik ke merokok tidak mungkin berlaku, sementara masih terlalu dini untuk menghalangi efek lain yang lebih kecil atau berlawanan.”

Sumber: Vapemagz